mimbrr (3)

Muda Masjid Bersinar (MIMBAR): Menguatkan Peran Pemuda dalam Pengabdian Keumatan Melalui Masjid Sebagai Ruang Belajar dan Berbagi Nilai Keislaman

Masjid bukan sekadar ruang ibadah, tetapi juga ruang belajar, bertumbuh, dan berbagi. Semangat itulah yang dihidupkan melalui Program Muda Masjid Bersinar (MIMBAR), program kerja Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M)
CSSMoRA UIN Bandung, yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Masjid Jami’ Al Hikmah.

Program MIMBAR dilaksanakan sejak bulan September hingga Desember 2025 dan dirancang secara adaptif berdasarkan hasil komunikasi langsung dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) serta Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Al-Hikmah sebagai mitra. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting agar setiap kegiatan yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masjid dan jamaah.

Dalam sambutannya, Adhiim Hafiidh, Kepala Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA UIN Bandung, menyampaikan laporan bahwa pelaksanaan Program MIMBAR berlangsung selama empat bulan penuh, mulai dari September hingga Desember. Ia menegaskan bahwa MIMBAR bukan hanya program pengabdian, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasantri CSSMoRA untuk terjun langsung ke ranah masjid dan memperoleh pengalaman berharga sebagai pengajar.

“Program MIMBAR menjadi ruang belajar dua arah. Mahasantri CSSMoRA belajar mengabdi, sementara masjid menjadi tempat tumbuhnya kepedulian dan tanggung jawab sosial,” ungkapnya.

Salah satu fokus utama MIMBAR adalah kegiatan pengajaran di MDTA Al-Hikmah yang dilaksanakan secara rutin dua kali dalam seminggu, setiap hari Rabu dan Jumat. Melalui pembelajaran langsung di kelas, para pengajar dan relawan MIMBAR mendampingi santri dalam memahami materi keagamaan dengan pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan. Kegiatan pengajaran ini juga dilengkapi dengan perlombaan santri sebagai sarana pengembangan potensi, kepercayaan diri, serta semangat belajar anak-anak.

Kesan positif turut disampaikan oleh Bunda Wida, perwakilan ustadzah MDTA Al-Hikmah. Ia menyampaikan bahwa anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi dan bahkan menantikan kehadiran pengajar MIMBAR setiap Rabu dan Jumat.

“Anak-anak sangat senang dan selalu menunggu pembelajaran dari pengajar MIMBAR. Semoga apa yang sudah diajarkan bisa terus mereka ingat dan menjadi bekal ke depan,” tuturnya.

Selain pengajaran, Program MIMBAR juga mencakup kegiatan keagamaan lainnya, seperti Tawassulan Rutin yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan, setiap minggu kedua dan keempat. Kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga tradisi keagamaan, memperkuat doa, serta menumbuhkan kebersamaan jamaah Masjid Jami’ Al-Hikmah, khususnya pada malam Jumat.

Program MIMBAR juga berkolaborasi dalam pelaksanaan Tabligh Akbar dan Peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan pada Kamis, 2 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi momentum penguatan nilai-nilai spiritual sekaligus mempererat ukhuwah jamaah melalui kebersamaan dalam syiar dan peringatan hari besar keagamaan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum CSSMoRA, Muhammad Faraby Thahrurrasyid, menyampaikan harapannya agar sinergi yang telah terjalin antara CSSMoRA, DKM, dan MDTA Masjid Jami’ Al-Hikmah dapat terus berlanjut secara berkelanjutan.

“Semoga kolaborasi antara CSSMoRA UIN Bandung dengan pihak DKM/MDTA Masjid Jami’ Al-Hikmah dapat senantiasa terjaga dan terus berlanjut,” ujarnya.

Program Muda Masjid Bersinar (MIMBAR) ditutup pada Sabtu, 20 Desember 2025, sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan sekaligus refleksi bersama atas proses pengabdian yang telah dijalankan. Melalui MIMBAR, CSSMoRA UIN Bandung menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan masjid sebagai ruang hidup, tempat pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial berjalan beriringan.

post 3

Santri Dan Sumpah Pemuda : Peran Pendidikan Moral Pesantren Dalam Membentuk Pemuda dan Berintelektual

Oleh : Adhiim Hafiidh I PBSB 2023

28 Oktober 1928, berbagai kelompok pemuda hadir dari segenap penjuru nusantara pada sebuah kongres pemuda di batavia (Jakarta) untuk menyuarakan aspirasi yang sama yaitu persatuan dan kesatuan. Dengan penuh semangat dan tekad perjuangan para pemuda memberikan gagasan serta ide-ide cemerlangnya untuk mengobarkan api semangat perjuangan sehingga dapat terbebas dari cengkeraman bangsa penjajah. Hingga saat ini, Bangsa Indonesia senantiasa memperingati tanggal 28 Oktober sebagai hari sumpah Pemuda.

Lantas Bagaimana Peran Santri dalam Merefleksikan Nilai Nilai Sumpah Pemuda? Sumpah pemuda merefleksikan bahwa pemuda harusnya siap mengorbankan dirinya pada Tanah Air dan Bangsa Indonesia agar terwujudnya bangsa yang satu dan Merdeka. Namun tentunya sebagai santri kewajiban kita bukan hanya membela negara, tetapi juga membela dan memelihara agama. Di kalangan santri istilah “hubbul wathan minal iman” sudah tak asing lagi tentunya. Kalimat indah ini bukanlah hadis maupun ayat alqur’an, melainkan fatwa yang di cetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari saat ditanyai hukumnya membela negara oleh bung Karno (Jurnal kanwil kemenag, 2016). Kalimat tersebut bermakna bahwa mencintai tanah air merupakan sebagian dari iman.

Peran Pemuda dan Santri, benarkah Sebuah Bangsa Terletak di Tangan Pemuda? Makna sumpah pemuda saat ini bukan lagi berperang memperjuangkan kemerdekaan dari penjajajahan dan kolonial semata, akan tetapi bagaimana mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan berperang melawan kebodohan dan kemalasan, berperang melawan tantangan zaman yang kian hari kian berubah,

kian hari kian memanas atau bahkan mengganas. Kita bisa melihat bahwa saat ini kita sedang menuju era Society 5.0 dimana segala aspek kehidupan manusia sangat bergantung pada teknologi dan inovasi, bahkan sangat bergantung pada pemakaian artificial intelligence dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan ini tidak mungkin kita hindari namun harus kita hadapi. Seperti pesan bijak berikut “lambat terhambat, malas tergilas, meleng terpelanting dan berhenti mati.” (MSQ,2018). Ini artinya pemuda harus mampu beradaptasi dengan teknologi, terus berkreasi dan berinovasi dan ikut berpartisipasi membangun negri.

Salah satu tujuan pembangunan indonesia tahun 2020-2024 adalah untuk membentuk sumber daya manusia yang

berkualitas dan berdaya saing, yaitu sumber daya manusia yang sehat dan cerdas, adaptif, inovatif, terampil, dan berkarakter. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu kebijakan pembangunan diarahkan pada peningkatan kualitas pemuda (BPS,2023). Dikutip dari Hasil Sensus Pemuda oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah generasi muda mencapai 64,16 juta jiwa atau setara dengan 23,18 persen dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia (BPS,2023). Secara kuantitas angka 23,18 persen ini cukuplah besar, namun belum tentu secara kualitas. Dengan besarnya persentase pemuda atau yang dikenal dengan bonus demografi ini, Indonesia mendapatkan peluang yang sangat strategis untuk melakukan percepatan pembangunan dengan ketersediaan SDM yang produktif dan berkualitas. Akan tetapi, hal ini juga dapat menjadi menjadi jurang, jika pemuda indonesia tidak mempunyai kualitas dan tidak siap untuk berproduktivitas.

 

Pertanyannya, bisakah pemuda Indonesia melakukan pembaharuan menuju revolusi industry 5.0? Jawabannya bisa jika para pemuda terus menggali, berinovasi, dan mempelajari teknologi. Maka oleh karena itu, kita semua pasti sependapat bahwa Pendidikan berperan penting didalam menunjang pengetahuan dan intelektual pemuda. Berbicara terkait Pendidikan, Pendidikan pesantren merupakan Pendidikan yang dilandasi oleh tujuan pembentukan insan yang disiplin dan bermoral. Oleh sebab itu, Pendidikan moral pesantren yang dipelajari oleh para santri sangat berperan penting. Pendidikan Pesantren tidak hanya menciptakan pemuda yang berintelektual tetapi juga pemuda yang bermoral. 

Pemuda            Indonesia          sebenarnya memiliki peranan untuk menjadi pusat dari kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri. Dalam hal ini dapat dilakukan melalui pengadaan perubahan-perubahan        dalam   lingkungan masyarakat, baik secara nasional maupun daerah melalui perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan seperti berkreasi atau berinovasi dengan terus menambah wawasan dan pengalaman. Hal ini juga sudah diterapkan oleh para santri, dimana para santri senantiasa mengisi kajian dan dan memberikan siraman rohani bagi Masyarakat ataupun berperan dalam kegaiatan-kegiatan amal lainnya. Namun yang disayangkan saat ini jika santri tak mau berinovasi, takut menghadapi perubahan globalisasi, dan hanya berfokus pada mengaji. Indonesia saat ini butuh pemuda pemudi, butuh santri untuk terus berinovasi ditengah gempuran revolusi industri. Butuh pemuda pemudi yang bukan hanya pintar namun juga bermoral.

 

8572997ec44ac2be3e4a27e9b0fe0211

HIKMAH DIBALIK PERISTIWA ISRA DAN MI’RAJNYA RASULALLAH

Oleh : Ripki Nur Ilham

Peristiwa Isra dan Mi’raj mengandung hikmah yang mendalam mengenai pentingnya keimanan yang kokoh. Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, dan kemudian diangkat ke langit untuk menemui Allah. Peristiwa ini jelas merupakan salah satu peristiwa yang tidak bisa dijelaskan dengan akal manusia biasa. Oleh karena itu, Isra dan Mi’raj mengajarkan umat Islam bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang selalu bisa dijelaskan dengan logika, namun lebih kepada keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Keimanan yang kokoh ini adalah landasan utama bagi kehidupan seorang Muslim(Indriani, 2020). Dalam dunia yang penuh dengan tantangan, kebingungannya bisa membuat seseorang merasa ragu dan bahkan kehilangan arah. Namun, ketika seseorang memiliki keimanan yang kuat, ia mampu menghadapinya dengan kesabaran dan tawakal kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ankabut, ayat 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

Selain itu, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin (Al-Ghazali, 2008) menjelaskan bahwa keimanan yang kokoh akan melahirkan ketenangan dan keyakinan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Bahkan dalam kondisi yang tampaknya mustahil sekalipun, keimanan yang mendalam akan memberi kekuatan untuk terus melangkah.

Sebagaimana Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya iman itu lebih berat dari segala sesuatu, karena ia mampu memberikan ketenangan di hati dalam menghadapi dunia yang penuh keraguan.” Oleh karena itu, peristiwa Isra dan Mi’raj mengingatkan kita untuk memperkokoh keimanan kita dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan hidup kita, apapun keadaan yang kita hadapi

Isra dan Mi’raj juga mengandung pengajaran yang sangat penting mengenai shalat. Pada saat Mi’raj, Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan shalat lima waktu, yang menjadi kewajiban umat Islam hingga saat ini. Shalat bukan hanya merupakan ibadah ritual semata, tetapi juga sebagai cara untuk menjaga hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Shalat adalah pilar utama dalam agama Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Perkara yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka amal lainnya juga baik, dan jika shalatnya buruk, maka amal lainnya juga buruk.” (HR. Tirmidzi) Shalat memiliki banyak manfaat baik secara spiritual maupun psikologis (Rofiqoh, 2020). Selain sebagai kewajiban, shalat juga berfungsi sebagai sarana untuk menghubungkan diri langsung dengan Allah. Dalam shalat, umat Islam bisa berdoa, memohon petunjuk, serta merenungkan kebesaran dan rahmat Allah. Shalat juga membantu menenangkan jiwa di tengah kehidupan yang penuh dengan tekanan dan kekhawatiran.

Dalam kehidupan modern yang penuh dengan stres dan tantangan, shalat menjadi momen yang sangat berharga. Shalat memberikan kesempatan untuk sejenak beristirahat dari kesibukan duniawi dan fokus pada pencarian kedamaian batin. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Abdul Fattah Al-Sawi dalam bukunya tentang psikologi Islam, shalat juga memiliki fungsi terapeutik, yang membantu individu untuk lebih stabil secara emosional dan mental (Ma’rufah, 2015). Fatwa ulama seperti Syaikh Al-‘Utsaimin juga menekankan bahwa shalat lima waktu adalah sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh kedamaian hati, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan tekanan

Isra dan Mi’raj merupakan sebuah peristiwa yang menggambarkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Rasulullah SAW diperjalankan dalam perjalanan yang luar biasa dari Masjidil Haram hingga ke langit, bertemu dengan para nabi, dan akhirnya berdialog dengan Allah SWT. Kejadian ini menunjukkan kepada umat manusia betapa besar kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Allah SWT yang Maha Kuasa mampu melakukan hal-hal yang mustahil bagi manusia, dan peristiwa ini mengingatkan kita akan kebesaran-Nya yang tidak terhingga. Dalam Surah Al-Imran, ayat 191, Allah berfirman, “Sesungguhnya pada ciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” Sebagaimana diungkapkan dalam tafsir Ibnu Kathir (Syakir, 2012), ayat ini mengajarkan bahwa setiap makhluk dan fenomena di alam semesta adalah tanda kekuasaan Allah yang harus direnungkan dan disyukuri.

Peristiwa Mi’raj juga memberi pengajaran tentang pentingnya merenungkan kebesaran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Sebagai contoh, dalam dunia modern yang semakin bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi, kita sering kali terlena dengan kemajuan tersebut dan melupakan kebesaran pencipta segala sesuatu, yaitu Allah SWT. Dalam konteks ini, Isra dan Mi’raj mengajarkan kita untuk terus bersyukur dan menjaga rasa takjub terhadap ciptaan Allah. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kebesaran Allah harus menjadi pokok dalam kehidupan setiap Muslim, dan peristiwa Mi’raj adalah salah satu cara Allah memperkenalkan diri-Nya lebih dekat kepada umat manusia. Ulama kontemporer menekankan pentingnya terus mendalami makna dan hikmah dari perjalanan ini untuk memperkuat ketakwaan kita kepada Allah.

. Peristiwa Isra dan Mi’raj memiliki banyak hikmah yang dapat dijadikan pedoman hidup, terutama dalam hal kesabaran. Sebelum terjadinya peristiwa agung ini, Rasulullah SAW telah menghadapi berbagai ujian berat, baik secara pribadi maupun sosial. Di antara ujian yang beliau hadapi adalah penolakan keras dari masyarakat Mekkah yang tidak menerima dakwah beliau, serta kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya, yaitu istri tercinta Khadijah RA dan paman beliau, Abu Thalib. Kedua kehilangan ini sangat mengguncang hati Rasulullah SAW. Namun, dalam menghadapi semua cobaan ini, Rasulullah SAW menunjukkan kesabaran yang luar biasa.

Isra dan Mi’raj, yang merupakan perjalanan spiritual yang luar biasa dan hanya dapat terjadi dengan kekuasaan Allah, hadir sebagai sebuah penghiburan dan penguatan bagi beliau. Peristiwa tersebut memberikan Rasulullah SAW kekuatan untuk melanjutkan perjuangan dakwahnya. Melalui perjalanan ini, Allah memberikan kesempatan kepada Rasulullah SAW untuk melihat kebesaran-Nya dan bertemu langsung dengan Allah, yang menunjukkan bahwa segala ujian yang beliau hadapi hanya merupakan bagian dari rencana besar-Nya. Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian adalah kunci untuk mendapatkan pertolongan dan penguatan dari Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah, ayat 153: “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah senjata utama dalam menghadapi setiap ujian hidup.

Para ulama juga menekankan pentingnya kesabaran dalam setiap aspek kehidupan. Syaikh Ibn Taimiyah, dalam bukunya Al-Sabru ‘Ala Al-Maqadir, menyebutkan bahwa sabar adalah kualitas yang wajib dimiliki setiap Muslim, terutama saat menghadapi cobaan dan kesulitan. Rasulullah SAW juga memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini, yang tercermin dalam hadis beliau: “Sesungguhnya sabar itu adalah cahaya.” (HR. Muslim). Hadis ini menggambarkan betapa besar manfaat sabar dalam kehidupan seorang Muslim, karena sabar tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga memberikan petunjuk dan cahaya dalam kegelapan ujian. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan tekanan dan tantangan, peristiwa Isra dan Mi’raj mengajarkan kita bahwa kesabaran bukan hanya bersifat pasif, tetapi juga aktif dalam mencari solusi dan memperbaiki diri. Hal ini mengingatkan kita bahwa di tengah kesulitan yang kita hadapi, Allah SWT selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang sabar dan tawakal. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi lebih kepada keteguhan hati untuk tetap berpegang pada iman, meskipun dalam keadaan sulit sekalipun.

Isra dan Mi’raj juga dapat dipandang sebagai pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan agama. Meskipun perjalanan Rasulullah SAW menuju langit tidak dapat dijelaskan dengan logika manusia, peristiwa ini tetap menunjukkan kekuasaan Allah yang melampaui batas-batas pemahaman manusia. Sebagai umat yang beriman, kita diajak untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, namun dengan kesadaran penuh bahwa segala pengetahuan berasal dari Allah SWT. Dalam dunia modern, ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang pesat, namun sering kali kemajuan ini membuat sebagian orang merasa semakin jauh dari agama. Namun, peristiwa Isra dan Mi’raj menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan harus selaras dengan kesadaran akan kekuasaan Allah (Ayathurrahman & Shodiq, 2023). Seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Bouti, perkembangan ilmu pengetahuan harus digunakan untuk memperbaiki kehidupan umat manusia dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru menjauhkan kita dari-Nya.

Islam mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan yang sejati adalah ilmu yang membawa kepada pemahaman yang lebih dalam tentang kebesaran Allah. Oleh karena itu, umat Islam harus terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap menghormati dan mengagungkan kekuasaan Allah. Teknologi dan ilmu pengetahuan tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk meragukan kebesaran-Nya, melainkan harus digunakan untuk mendalami ciptaan Allah dan memperkuat iman kita

Dalam menghadapi tantangan zaman yang serba tidak menentu ini, doa menjadi salah satu cara utama umat Islam untuk mendapatkan kekuatan dan harapan. Isra dan Mi’raj mengajarkan kita bahwa Allah selalu mendengar doa hamba-Nya yang tulus dan penuh harapan. Setelah melewati berbagai ujian yang berat, Rasulullah SAW mendapatkan kesempatan untuk berdoa dan berhubungan langsung dengan Allah, yang menjadi sumber kekuatan bagi beliau dalam menjalankan misi dakwah. Doa adalah senjata utama bagi umat Islam dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah, ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Syaikh Ibn Baz menegaskan bahwa doa adalah cara untuk memperoleh pertolongan dan kekuatan dari Allah. Dalam setiap kesulitan, doa menjadi cara untuk menyampaikan harapan dan keinginan kepada Allah, serta memohon agar diberi kemudahan dalam menghadapi setiap ujian. Doa juga membantu memperkuat keimanan dan mengingatkan kita bahwa hanya kepada Allah lah kita bergantung. Peristiwa Isra dan Mi’raj mengajarkan kita bahwa dengan doa dan tawakal kepada Allah, kita akan selalu menemukan jalan keluar dari setiap kesulitan. Doa adalah sarana untuk mempererat hubungan dengan Allah dan menunjukkan ketergantungan kita kepada-Nya, serta memberikan harapan dan kekuatan untuk terus maju dalam kehidupan

Peristiwa Isra dan Mi’raj mengandung hikmah yang sangat mendalam dan relevansi yang kuat dalam kehidupan seorang Muslim. Pertama-tama, peristiwa ini mengajarkan kita tentang pentingnya keimanan yang kokoh, yang menjadi landasan utama dalam menghadapi setiap ujian hidup. Keimanan yang kuat membantu kita untuk tetap bersabar dan bertawakal kepada Allah dalam menghadapi segala kesulitan. Hal ini tercermin dalam pengalaman Rasulullah SAW yang menghadapi berbagai ujian, namun tetap teguh beriman dan mengandalkan pertolongan Allah.

Selain itu, peristiwa Isra dan Mi’raj juga menekankan pentingnya shalat sebagai sarana untuk menjaga hubungan dengan Allah dan memperoleh kedamaian batin. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga sebagai momen untuk merenung, berdoa, dan memperbaiki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Dalam dunia yang penuh tekanan dan kecemasan, shalat menjadi waktu yang sangat berharga untuk mencari ketenangan batin.

Perjalanan Isra dan Mi’raj juga mengingatkan kita akan kebesaran dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia, dan melalui fenomena alam, kita diingatkan untuk selalu bersyukur dan takjub atas ciptaan-Nya. Hal ini memberikan perspektif bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan agama, tetapi harus digunakan untuk memahami lebih dalam kebesaran Allah. peristiwa Isra dan Mi’raj memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh keimanan, kesabaran, dan ketakwaan kepada Allah, serta bagaimana kita dapat menjaga hubungan spiritual yang erat dengan-Nya dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan tekanan.

Al-Ghazali, I. (2008). Ringkasan ihya’ulumuddin. Akbar Media.

Ayathurrahman, H., & Shodiq, S. F. (2023). Integrasi Ilmu Agama-Sains Badiuzzaman Said Nursi dan Relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam Era Digital di Indonesia. Bulletin of Indonesian Islamic Studies, 2(1), 1–18.

Indriani, H. (2020). Keimanan.

Ma’rufah, Y. (2015). Manfaat Shalat Terhadap Kesehatan Mental Dalam Al-Qur’an. Skripsi—Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Rofiqoh, A. (2020). Shalat dan kesehatan jasmani. Spiritualita, 4(1), 65–76.

Syakir, S. A. (2012). Tafsir Ibnu Katsir. Dar al Sunnah Press.

Abdul Fattah Al-Sawi .(2022). Psikologi Islam

Syaikh Ibn Taimiyah, Al-Sabru ‘Ala Al-Maqadir

 

post 2

DI ISRA’ DAN DI MI’RAJKANNYA NABI MUHAMMAD SAW

Oleh : Al-Faqir Dacep Wijaya

Bulan Rajab adalah bulan mulia yang penuh dengan keistimewaan di dalamnya. Bulan Rajab merupakan satu dari empat bulan mulia yang di nash oleh Al-Qur’an, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan dalam surat At-Taubah [9] : 36,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Diketahui dalam keterangan yang terwarid dari Baginda Nabi Besar Muhammad saw. bahwasanya empat bulan dimaksud adalah 3 bulan yang berurutan (Dzulqi’dah, Dzulhijjah, Al-Muharram) dan satu lagi terpisah (Rajab). Dikatakan oleh para ‘Ulama seseorang yang berbuat kebaiaikan pada bulan-bulan itu akan dilipatgandakan pahalanya, pun apabila berbuat keburukan akan dilipatgandakan pula dosanya.

Di salah satu bulan dari keempat bulan tersebut yaitu Rajab, terdapat peristiwa yang sangat agung, hebat, dahsyat. Dimana pada bulan Rajab terjadi peristiwa di isra dan di mi’rajkannya Nabi Muhammad saw.. Isra adalah perjalanan malam Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Perjalanan ini dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, dengan ditemani oleh Malaikat Jibril. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah swt.. Mi’raj adalah kenaikan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Aqsa ke langit ketujuh hingga ke Sidratul Muntaha, yaitu tempat tertinggi yang tidak bisa dicapai oleh makhluk lain. Di sana, Nabi Muhammad (saw) bertemu dengan Allah SWT dan menerima perintah shalat lima waktu yang kemudian menjadi kewajiban bagi umat Islam. Dalam banyak keterangan yang masyhur bahwasanya Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan spiritual tersebut sebelum beliau hijrah ke Kota Al-Madinah Al-Munawwaroh, dan pasca itu beliau dapat melihat Rabbul ‘Izzati Allah swt. berfirman dan memberikan kewajiban shalat bagi ummatnya.

Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ahmad Al-Marzuqi dalam Aqidah Al-‘Awwam,

وَقَبْلَ هِجْرَةِ النَّبِيِّ الإِسْرَا * مِنْ مَكَةٍ لَيْلًا لِقُدْسِ يُدْرَى

وَبَعْدَ إِسْرَاءِ عُرُوجٌ لِلسَّمَا * حَتَّى رَأَى النَّبِيُّ رَبِّاً كَلَّمَا

مِنْ غَيْرِ كَيْفِ وَانْحِصَارِ وَافْتَرَضْ * عَلَيْهِ خَمْساً بَعْدَ خَمْسِينَ فَرَضْ

Sebelum hijrah Nabi Isra’ dahulu * dari Makkah ke Aqsho malam berlalu

Usai Isra’ naik ke langit kunjungan * Hingga Nabi melihat Tuhan berfirman

Tanpa gimana? Lalu Alloh fardhukan * Lima waktu setelah lima puluhan

Dikatakan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nur Azh-Zhalam,

يجب على كل مكلف أن يعتقد أن الله تعالى أكرم نبيه صلى الله عليه وسلم بالإسراء والمعراج ليلاً

“Wajib bagi setiap mukallaf meyakini bahwa Allah swt. memuliakan Nabi-Nya saw. dengan peristiwa Isra dan Mi’raj. “

Dari pernyataan di atas dapat kita ketahui, bahwasanya di isra dan di mi’rajkannya Nabi Muhammad saw. adalah sesuatu yang kita wajib percaya kejadiannya. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang khoriqul lil ‘adat (menyalahi kebiasaan) atau peristiwa yang mustahil terjadi menurut kebiasaan manusia biasa. Akan tetapi perlu kita yakini peristiwa ini adalah bukan peristiwa yang khoriq lil ‘aql (menyalahi akal) atau tidak masuk akal, karena sejatinya kuasa Allah lah yang memberjalankan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha’ hanya dengan waktu yang begitu singkat, dan kita ketahui Allah memiliki kehendak apapun terhadap segala sesuatu, bahkan dikatakan dalam satu riwayat, ketika Nabi Muhammad saw. mulai beranjak dari tempat duduknya untuk melakukan peristiwa tersebut, ketika Nabi saw. pulang, tempat duduk beliau saw. masih dalam keadaan hangat, dalam artian beliau pergi hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Peristiwa Isra dan Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat luar biasa, dimana ketika Nabi saw. sedang berbaring di Hijr Isma’il tiba-tiba datang Malaikat Jibril dan Malaikat Mika’il serta Malaikat lainnya untuk menjemput Nabi yang kemudian membawa Nabi ke sumur zamzam untuk kemudian di belek dadanya dan disucikan hatinya dengan air zamzam untuk menambah kesuciannya. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi,

وما أخرج الأملاك من قلبه أذى ولكنهم زادوه طهرا على طهر

“Sesungguhnya para malaikat tersebut tidaklah mengeluarkan sesuatu dari diri beliau Saw. Akan tetapi sesungguhnya mereka telah menambah kesucian di atas kesucian pribadi beliau Saw.”

Hal itu mengindikasikan kesucian dari diri baginda Nabi Muhammad saw.. Pasca itu didatangkanlah buroq untuk menemani peristiwa agung ini sampai diperjalanan Nabi saw. singgah di beberapa tempat mulia sebalum akhirnya sampai di Masjidil Aqsho untuk kemudian shalat mengimami para Nabi lainnya. Pasca itu kemudian Nabi saw. melakukan mi’raj melewati beberapa langit, di langit pertama beliau bertemu dengan Nabi Adam as., di langit kedua beliau bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya ama.s kemudian di langit ketiga beliau bertemu dengan Nabi Yusuf as. dan golongan dari ummatnya, kemudian di langit keempat beliau bertemu dengan Nabi Idris as., kemudian di langit kelima beliau bertemu dengan Nabi Harun as. dan disekitaran beliau ada kaum dari Bani Isra’il, kemudian di langit keenam beliau bertemu dengan Nabi Musa as. dan kaumnya, dan kemudian di langit ketujuh beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim as., dimana pada setiap langit Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi lainnya saling memberi salam.

Pasca itu kemudian Nabi Muhammad saw. sampai di Sidratil Muntaha, dan sampai disini Malaikat Jibril tidak dapat menemani lagi, karena Sidratil Muntaha adalah tempat yang tidak sembarangan bisa dimasuki oleh Makhluk Allah lainnya, dan yang hanya diizinkan bisa melewati itu hanyalah Nabi Muhammad saw., lalu terjadilah interaksi antara Allah swt. dengan Baginda Agung Nabi Muhammad saw., yang kemudian ditetapkankan perintah shalat untuk ummat Nabi Muhammad sebanyak 50 waktu. Singkat cerita Nabi Muhammad kembali dan ditengah perjalanan ditanya oleh Nabi Musa as, tentang apa yang telah ia dapatkan dari Allah Yang Maha Suci, maka Nabi menjawab bahwasanya beliau mendapat perintah shalat sebanyak 50 waktu, kemudian Nabi Musa menyuruh kembali Nabi Muhammad saw. untuk meminta keringanan, karena menurutnya umat Nabi Muhammad saw. tidak akan sanggup melakukannya. Lalu diturutilah apa yang diminta Nabi Musa as. sampai Nabi Muhammad saw. bulak balik sebanyak 10x, singkat cerita setelah perintah shalat telah disedikitkan menjadi 5 waktu, Nabi Musa tetep keukeuh untuk meminta keringanan kembali, namun saat ini Nabi Muhammad saw. tidak menurutinya, karena beliau malu oleh Dzat Allah, kemudian ditetapkanlah perintah shalat 5 waktu untuk ummat Nabi Muhammad saw.

Amat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa diIsra’ dan diMi’rajkannya Nabi Muhammad saw., diantaranya adalah memperkuat keimanan kita bahwasanya Allah swt. adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, bahkan sesuatu yang mustahil menurut kebiasaan kita, Allah swt. mampu untuk melakukannya. Selain itu juga peristiwa di Isra’ dan di Mi’rajkannya Nabi Muhammad saw. memberikan indikasi bahwasanya Nabi Muhammad saw. adalah makhluk termulia, karena satu-satunya makhluk yang bisa melihat Dzat Allah secara langsung secara terjaga ketika masih ada di alam dunia. Bahkan Nabi Muhammad saw. melihat Dzat Allah tidak sekali, tapi beberapa kali dalam peristiwa itu. Selain itu juga Nabi Muhammad saw. merupakan Imam/Pemimpin bagi para Nabi lainnya, hal itu terbukti ketika beliau mengimami para Nabi di Masjidil Aqsho. Peristiwa ini juga mengindikasikan betapa agungnya perintah shalat, saking agungnya perintah ini, Nabi saw. menerima perintahnya tanpa perantara Malaikat Jibril as., tetapi langsung bertemu dengan Dzat Allah swt..

Dikatakan oleh As-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki dalam Al-Anwar Al-Bahiyyah bahwasanya, seorang hamba yang menjaga dalam melaksanakan shalatnya dengan sempurna dan khusyu’ maka diberikan padanya ampunan dosa dan dicintai oleh Allah. Sedangkan orang yang tidak bisa menjaga shalatnya maka diharamkan atasnya kenikmatan dan keberkahan di dunia dan mendapat siksaan di akhirat kelak. Maka pentinglah bagi kita menjaga shalat yang telah Allah perintahkan yang kemudian disampaikan oleh Nabi kita Muhammad saw.

Ref:

  1. Al-Bantani, Muhammad bin Umar Nawawi. Nur Azh-Zhalam Syarh Manzhumah Aqidah Al-‘Awwam.
  2. Ad-Dardiri, Najmuddin Al-Ghaithi. Qishah Al-Mi’raj (Bainama).
  3. Al-Habsyi, ‘Ali bin Muhammad. Simth Ad-Duror.
  4. Al-Maliki, Muhammad bin Alawy. Al-Anwar Al-Bahiyyah.
  5. Al-Manafi, Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir. Nazham Aqidatul Awwam.
  6. Al-Marzuqi, Ahmad bin Muhammd. Manzhumah Aqidah Al-‘Awwam.