Oleh : Adhiim Hafiidh I PBSB 2023
28 Oktober 1928, berbagai kelompok pemuda hadir dari segenap penjuru nusantara pada sebuah kongres pemuda di batavia (Jakarta) untuk menyuarakan aspirasi yang sama yaitu persatuan dan kesatuan. Dengan penuh semangat dan tekad perjuangan para pemuda memberikan gagasan serta ide-ide cemerlangnya untuk mengobarkan api semangat perjuangan sehingga dapat terbebas dari cengkeraman bangsa penjajah. Hingga saat ini, Bangsa Indonesia senantiasa memperingati tanggal 28 Oktober sebagai hari sumpah Pemuda.
Lantas Bagaimana Peran Santri dalam Merefleksikan Nilai Nilai Sumpah Pemuda? Sumpah pemuda merefleksikan bahwa pemuda harusnya siap mengorbankan dirinya pada Tanah Air dan Bangsa Indonesia agar terwujudnya bangsa yang satu dan Merdeka. Namun tentunya sebagai santri kewajiban kita bukan hanya membela negara, tetapi juga membela dan memelihara agama. Di kalangan santri istilah “hubbul wathan minal iman” sudah tak asing lagi tentunya. Kalimat indah ini bukanlah hadis maupun ayat alqur’an, melainkan fatwa yang di cetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari saat ditanyai hukumnya membela negara oleh bung Karno (Jurnal kanwil kemenag, 2016). Kalimat tersebut bermakna bahwa mencintai tanah air merupakan sebagian dari iman.
Peran Pemuda dan Santri, benarkah Sebuah Bangsa Terletak di Tangan Pemuda? Makna sumpah pemuda saat ini bukan lagi berperang memperjuangkan kemerdekaan dari penjajajahan dan kolonial semata, akan tetapi bagaimana mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan berperang melawan kebodohan dan kemalasan, berperang melawan tantangan zaman yang kian hari kian berubah,
kian hari kian memanas atau bahkan mengganas. Kita bisa melihat bahwa saat ini kita sedang menuju era Society 5.0 dimana segala aspek kehidupan manusia sangat bergantung pada teknologi dan inovasi, bahkan sangat bergantung pada pemakaian artificial intelligence dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan ini tidak mungkin kita hindari namun harus kita hadapi. Seperti pesan bijak berikut “lambat terhambat, malas tergilas, meleng terpelanting dan berhenti mati.” (MSQ,2018). Ini artinya pemuda harus mampu beradaptasi dengan teknologi, terus berkreasi dan berinovasi dan ikut berpartisipasi membangun negri.
Salah satu tujuan pembangunan indonesia tahun 2020-2024 adalah untuk membentuk sumber daya manusia yang
berkualitas dan berdaya saing, yaitu sumber daya manusia yang sehat dan cerdas, adaptif, inovatif, terampil, dan berkarakter. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu kebijakan pembangunan diarahkan pada peningkatan kualitas pemuda (BPS,2023). Dikutip dari Hasil Sensus Pemuda oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah generasi muda mencapai 64,16 juta jiwa atau setara dengan 23,18 persen dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia (BPS,2023). Secara kuantitas angka 23,18 persen ini cukuplah besar, namun belum tentu secara kualitas. Dengan besarnya persentase pemuda atau yang dikenal dengan bonus demografi ini, Indonesia mendapatkan peluang yang sangat strategis untuk melakukan percepatan pembangunan dengan ketersediaan SDM yang produktif dan berkualitas. Akan tetapi, hal ini juga dapat menjadi menjadi jurang, jika pemuda indonesia tidak mempunyai kualitas dan tidak siap untuk berproduktivitas.
Pertanyannya, bisakah pemuda Indonesia melakukan pembaharuan menuju revolusi industry 5.0? Jawabannya bisa jika para pemuda terus menggali, berinovasi, dan mempelajari teknologi. Maka oleh karena itu, kita semua pasti sependapat bahwa Pendidikan berperan penting didalam menunjang pengetahuan dan intelektual pemuda. Berbicara terkait Pendidikan, Pendidikan pesantren merupakan Pendidikan yang dilandasi oleh tujuan pembentukan insan yang disiplin dan bermoral. Oleh sebab itu, Pendidikan moral pesantren yang dipelajari oleh para santri sangat berperan penting. Pendidikan Pesantren tidak hanya menciptakan pemuda yang berintelektual tetapi juga pemuda yang bermoral.
Pemuda Indonesia sebenarnya memiliki peranan untuk menjadi pusat dari kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri. Dalam hal ini dapat dilakukan melalui pengadaan perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat, baik secara nasional maupun daerah melalui perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan seperti berkreasi atau berinovasi dengan terus menambah wawasan dan pengalaman. Hal ini juga sudah diterapkan oleh para santri, dimana para santri senantiasa mengisi kajian dan dan memberikan siraman rohani bagi Masyarakat ataupun berperan dalam kegaiatan-kegiatan amal lainnya. Namun yang disayangkan saat ini jika santri tak mau berinovasi, takut menghadapi perubahan globalisasi, dan hanya berfokus pada mengaji. Indonesia saat ini butuh pemuda pemudi, butuh santri untuk terus berinovasi ditengah gempuran revolusi industri. Butuh pemuda pemudi yang bukan hanya pintar namun juga bermoral.

Add a Comment