8572997ec44ac2be3e4a27e9b0fe0211

HIKMAH DIBALIK PERISTIWA ISRA DAN MI’RAJNYA RASULALLAH

Oleh : Ripki Nur Ilham

Peristiwa Isra dan Mi’raj mengandung hikmah yang mendalam mengenai pentingnya keimanan yang kokoh. Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, dan kemudian diangkat ke langit untuk menemui Allah. Peristiwa ini jelas merupakan salah satu peristiwa yang tidak bisa dijelaskan dengan akal manusia biasa. Oleh karena itu, Isra dan Mi’raj mengajarkan umat Islam bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang selalu bisa dijelaskan dengan logika, namun lebih kepada keyakinan yang kuat kepada Allah SWT. Keimanan yang kokoh ini adalah landasan utama bagi kehidupan seorang Muslim(Indriani, 2020). Dalam dunia yang penuh dengan tantangan, kebingungannya bisa membuat seseorang merasa ragu dan bahkan kehilangan arah. Namun, ketika seseorang memiliki keimanan yang kuat, ia mampu menghadapinya dengan kesabaran dan tawakal kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ankabut, ayat 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

Selain itu, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin (Al-Ghazali, 2008) menjelaskan bahwa keimanan yang kokoh akan melahirkan ketenangan dan keyakinan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Bahkan dalam kondisi yang tampaknya mustahil sekalipun, keimanan yang mendalam akan memberi kekuatan untuk terus melangkah.

Sebagaimana Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya iman itu lebih berat dari segala sesuatu, karena ia mampu memberikan ketenangan di hati dalam menghadapi dunia yang penuh keraguan.” Oleh karena itu, peristiwa Isra dan Mi’raj mengingatkan kita untuk memperkokoh keimanan kita dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan hidup kita, apapun keadaan yang kita hadapi

Isra dan Mi’raj juga mengandung pengajaran yang sangat penting mengenai shalat. Pada saat Mi’raj, Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan shalat lima waktu, yang menjadi kewajiban umat Islam hingga saat ini. Shalat bukan hanya merupakan ibadah ritual semata, tetapi juga sebagai cara untuk menjaga hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Shalat adalah pilar utama dalam agama Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Perkara yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka amal lainnya juga baik, dan jika shalatnya buruk, maka amal lainnya juga buruk.” (HR. Tirmidzi) Shalat memiliki banyak manfaat baik secara spiritual maupun psikologis (Rofiqoh, 2020). Selain sebagai kewajiban, shalat juga berfungsi sebagai sarana untuk menghubungkan diri langsung dengan Allah. Dalam shalat, umat Islam bisa berdoa, memohon petunjuk, serta merenungkan kebesaran dan rahmat Allah. Shalat juga membantu menenangkan jiwa di tengah kehidupan yang penuh dengan tekanan dan kekhawatiran.

Dalam kehidupan modern yang penuh dengan stres dan tantangan, shalat menjadi momen yang sangat berharga. Shalat memberikan kesempatan untuk sejenak beristirahat dari kesibukan duniawi dan fokus pada pencarian kedamaian batin. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Abdul Fattah Al-Sawi dalam bukunya tentang psikologi Islam, shalat juga memiliki fungsi terapeutik, yang membantu individu untuk lebih stabil secara emosional dan mental (Ma’rufah, 2015). Fatwa ulama seperti Syaikh Al-‘Utsaimin juga menekankan bahwa shalat lima waktu adalah sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh kedamaian hati, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan tekanan

Isra dan Mi’raj merupakan sebuah peristiwa yang menggambarkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Rasulullah SAW diperjalankan dalam perjalanan yang luar biasa dari Masjidil Haram hingga ke langit, bertemu dengan para nabi, dan akhirnya berdialog dengan Allah SWT. Kejadian ini menunjukkan kepada umat manusia betapa besar kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Allah SWT yang Maha Kuasa mampu melakukan hal-hal yang mustahil bagi manusia, dan peristiwa ini mengingatkan kita akan kebesaran-Nya yang tidak terhingga. Dalam Surah Al-Imran, ayat 191, Allah berfirman, “Sesungguhnya pada ciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” Sebagaimana diungkapkan dalam tafsir Ibnu Kathir (Syakir, 2012), ayat ini mengajarkan bahwa setiap makhluk dan fenomena di alam semesta adalah tanda kekuasaan Allah yang harus direnungkan dan disyukuri.

Peristiwa Mi’raj juga memberi pengajaran tentang pentingnya merenungkan kebesaran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Sebagai contoh, dalam dunia modern yang semakin bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi, kita sering kali terlena dengan kemajuan tersebut dan melupakan kebesaran pencipta segala sesuatu, yaitu Allah SWT. Dalam konteks ini, Isra dan Mi’raj mengajarkan kita untuk terus bersyukur dan menjaga rasa takjub terhadap ciptaan Allah. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kebesaran Allah harus menjadi pokok dalam kehidupan setiap Muslim, dan peristiwa Mi’raj adalah salah satu cara Allah memperkenalkan diri-Nya lebih dekat kepada umat manusia. Ulama kontemporer menekankan pentingnya terus mendalami makna dan hikmah dari perjalanan ini untuk memperkuat ketakwaan kita kepada Allah.

. Peristiwa Isra dan Mi’raj memiliki banyak hikmah yang dapat dijadikan pedoman hidup, terutama dalam hal kesabaran. Sebelum terjadinya peristiwa agung ini, Rasulullah SAW telah menghadapi berbagai ujian berat, baik secara pribadi maupun sosial. Di antara ujian yang beliau hadapi adalah penolakan keras dari masyarakat Mekkah yang tidak menerima dakwah beliau, serta kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya, yaitu istri tercinta Khadijah RA dan paman beliau, Abu Thalib. Kedua kehilangan ini sangat mengguncang hati Rasulullah SAW. Namun, dalam menghadapi semua cobaan ini, Rasulullah SAW menunjukkan kesabaran yang luar biasa.

Isra dan Mi’raj, yang merupakan perjalanan spiritual yang luar biasa dan hanya dapat terjadi dengan kekuasaan Allah, hadir sebagai sebuah penghiburan dan penguatan bagi beliau. Peristiwa tersebut memberikan Rasulullah SAW kekuatan untuk melanjutkan perjuangan dakwahnya. Melalui perjalanan ini, Allah memberikan kesempatan kepada Rasulullah SAW untuk melihat kebesaran-Nya dan bertemu langsung dengan Allah, yang menunjukkan bahwa segala ujian yang beliau hadapi hanya merupakan bagian dari rencana besar-Nya. Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian adalah kunci untuk mendapatkan pertolongan dan penguatan dari Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah, ayat 153: “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah senjata utama dalam menghadapi setiap ujian hidup.

Para ulama juga menekankan pentingnya kesabaran dalam setiap aspek kehidupan. Syaikh Ibn Taimiyah, dalam bukunya Al-Sabru ‘Ala Al-Maqadir, menyebutkan bahwa sabar adalah kualitas yang wajib dimiliki setiap Muslim, terutama saat menghadapi cobaan dan kesulitan. Rasulullah SAW juga memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini, yang tercermin dalam hadis beliau: “Sesungguhnya sabar itu adalah cahaya.” (HR. Muslim). Hadis ini menggambarkan betapa besar manfaat sabar dalam kehidupan seorang Muslim, karena sabar tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga memberikan petunjuk dan cahaya dalam kegelapan ujian. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan tekanan dan tantangan, peristiwa Isra dan Mi’raj mengajarkan kita bahwa kesabaran bukan hanya bersifat pasif, tetapi juga aktif dalam mencari solusi dan memperbaiki diri. Hal ini mengingatkan kita bahwa di tengah kesulitan yang kita hadapi, Allah SWT selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang sabar dan tawakal. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi lebih kepada keteguhan hati untuk tetap berpegang pada iman, meskipun dalam keadaan sulit sekalipun.

Isra dan Mi’raj juga dapat dipandang sebagai pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan agama. Meskipun perjalanan Rasulullah SAW menuju langit tidak dapat dijelaskan dengan logika manusia, peristiwa ini tetap menunjukkan kekuasaan Allah yang melampaui batas-batas pemahaman manusia. Sebagai umat yang beriman, kita diajak untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, namun dengan kesadaran penuh bahwa segala pengetahuan berasal dari Allah SWT. Dalam dunia modern, ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang pesat, namun sering kali kemajuan ini membuat sebagian orang merasa semakin jauh dari agama. Namun, peristiwa Isra dan Mi’raj menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan harus selaras dengan kesadaran akan kekuasaan Allah (Ayathurrahman & Shodiq, 2023). Seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Bouti, perkembangan ilmu pengetahuan harus digunakan untuk memperbaiki kehidupan umat manusia dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru menjauhkan kita dari-Nya.

Islam mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan yang sejati adalah ilmu yang membawa kepada pemahaman yang lebih dalam tentang kebesaran Allah. Oleh karena itu, umat Islam harus terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap menghormati dan mengagungkan kekuasaan Allah. Teknologi dan ilmu pengetahuan tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk meragukan kebesaran-Nya, melainkan harus digunakan untuk mendalami ciptaan Allah dan memperkuat iman kita

Dalam menghadapi tantangan zaman yang serba tidak menentu ini, doa menjadi salah satu cara utama umat Islam untuk mendapatkan kekuatan dan harapan. Isra dan Mi’raj mengajarkan kita bahwa Allah selalu mendengar doa hamba-Nya yang tulus dan penuh harapan. Setelah melewati berbagai ujian yang berat, Rasulullah SAW mendapatkan kesempatan untuk berdoa dan berhubungan langsung dengan Allah, yang menjadi sumber kekuatan bagi beliau dalam menjalankan misi dakwah. Doa adalah senjata utama bagi umat Islam dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah, ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Syaikh Ibn Baz menegaskan bahwa doa adalah cara untuk memperoleh pertolongan dan kekuatan dari Allah. Dalam setiap kesulitan, doa menjadi cara untuk menyampaikan harapan dan keinginan kepada Allah, serta memohon agar diberi kemudahan dalam menghadapi setiap ujian. Doa juga membantu memperkuat keimanan dan mengingatkan kita bahwa hanya kepada Allah lah kita bergantung. Peristiwa Isra dan Mi’raj mengajarkan kita bahwa dengan doa dan tawakal kepada Allah, kita akan selalu menemukan jalan keluar dari setiap kesulitan. Doa adalah sarana untuk mempererat hubungan dengan Allah dan menunjukkan ketergantungan kita kepada-Nya, serta memberikan harapan dan kekuatan untuk terus maju dalam kehidupan

Peristiwa Isra dan Mi’raj mengandung hikmah yang sangat mendalam dan relevansi yang kuat dalam kehidupan seorang Muslim. Pertama-tama, peristiwa ini mengajarkan kita tentang pentingnya keimanan yang kokoh, yang menjadi landasan utama dalam menghadapi setiap ujian hidup. Keimanan yang kuat membantu kita untuk tetap bersabar dan bertawakal kepada Allah dalam menghadapi segala kesulitan. Hal ini tercermin dalam pengalaman Rasulullah SAW yang menghadapi berbagai ujian, namun tetap teguh beriman dan mengandalkan pertolongan Allah.

Selain itu, peristiwa Isra dan Mi’raj juga menekankan pentingnya shalat sebagai sarana untuk menjaga hubungan dengan Allah dan memperoleh kedamaian batin. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga sebagai momen untuk merenung, berdoa, dan memperbaiki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Dalam dunia yang penuh tekanan dan kecemasan, shalat menjadi waktu yang sangat berharga untuk mencari ketenangan batin.

Perjalanan Isra dan Mi’raj juga mengingatkan kita akan kebesaran dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia, dan melalui fenomena alam, kita diingatkan untuk selalu bersyukur dan takjub atas ciptaan-Nya. Hal ini memberikan perspektif bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan agama, tetapi harus digunakan untuk memahami lebih dalam kebesaran Allah. peristiwa Isra dan Mi’raj memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh keimanan, kesabaran, dan ketakwaan kepada Allah, serta bagaimana kita dapat menjaga hubungan spiritual yang erat dengan-Nya dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan tekanan.

Al-Ghazali, I. (2008). Ringkasan ihya’ulumuddin. Akbar Media.

Ayathurrahman, H., & Shodiq, S. F. (2023). Integrasi Ilmu Agama-Sains Badiuzzaman Said Nursi dan Relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam Era Digital di Indonesia. Bulletin of Indonesian Islamic Studies, 2(1), 1–18.

Indriani, H. (2020). Keimanan.

Ma’rufah, Y. (2015). Manfaat Shalat Terhadap Kesehatan Mental Dalam Al-Qur’an. Skripsi—Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Rofiqoh, A. (2020). Shalat dan kesehatan jasmani. Spiritualita, 4(1), 65–76.

Syakir, S. A. (2012). Tafsir Ibnu Katsir. Dar al Sunnah Press.

Abdul Fattah Al-Sawi .(2022). Psikologi Islam

Syaikh Ibn Taimiyah, Al-Sabru ‘Ala Al-Maqadir

 

Tags: No tags

2 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *